Search

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

Silaturahmi KAMMI Madani dengan Harian Republika: Peran Media Dalam Isu Keumatan

photogrid_1485584820474

Kamis, 26 Januari 2017, rombongan kader KAMMI Madani melakukan kunjungan silaturahmi dengan pihak Harian Republika yang berlokasi di Jalan Warung Jati Barat No.2, Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat tali silaturahmi antara KAMMI dengan Harian Republika. Selain itu, kunjungan ini juga sebagai sarana berdiskusi tentang isu-isu keumatan yang sedang gencar dibicarakan saat ini dan pengajuan proposal kegiatan, IFIC.CO (Indonesia Future Investment Conference).

Kunjungan dibuka dengan sambutan dari Hari sebagai Redaktur Pelaksana Harian Republika. Beliau mengatakan bahwa pihak Harian Republika merasa sangat senang atas kunjungan tersebut. Mereka membuka pintu lebar-lebar bagi setiap organisasi Islam yang ingin mengadakan forum diskusi demi tercapainya sinerginitas antara media massa dengan masyarakat.

Topik-topik diskusi yang dicanangkan dalam kunjungan ini yaitu tentang sikap Harian Republika terhadap informasi-informasi palsu yang digunakan untuk mengelabui masyarakat atau biasa kita dengar dengan informasi hoax, yang sering beredar di masyarakat. Edi selaku perwakilan dari KAMMI Madani menyatakan bahwa saat ini, informasi-informasi hoax cenderung merugikan ummat Islam. Tragisnya, ummat Islam juga ternyata menjadi agen penyebar informasi-informasi hoax tersebut. Menanggapi hal ini, Hari mengatakan bahwa Harian Republika telah berusaha untuk menanggulangi informasi-informasi hoax dengan selalu meng – update berita-berita setiap satu jam sekali di laman Republika Online. Selanjutnya, Hari menambahkan bahwa Harian Republika juga membuka banyak kolom-kolom berita yang dapat diisi oleh para pembaca seperti kolom opini. Hal ini bertujuan agar pembaca juga dapat ikut serta dalam mewarnai Harian Republika sekaligus sebagai pengendalian terhadap kesimpangsiuran informasi yang beredar di masyarakat.

Selain tentang informasi hoax, kunjungan tersebut juga membahas tentang publikasi setiap aksi-aksi yang dilakukan oleh organisasi Islam, terutama KAMMI. Edi menyampaikan bahwa Harian Republika sangat jarang sekali memberitakan setiap aksi-aksi yang dilakukan oleh KAMMI, baik itu aksi dengan massa yang banyak ataupun sedikit. Menanggapi hal ini, Hari menyatakan bahwa pihaknya jarang mendapatkan undangan atau informasi tentang aksi-aksi yang dilakukan. Untuk itu, Hari menyarankan bahwa sebelum adanya suatu aksi atau kegiatan, pihak kehumasan KAMMI agar dapat menginformasikan aksi tersebut. “Insyallah, jika kami mendapatkan informasi kegiatan aksi dengan jelas, kami akan mengirimkan wartawan untuk meliput dan memberitakannya,” ujar Hari.
Kunjungan ini berjalan dengan lancar dan diakhiri dengan foto bersama dan penyerahan proposal kegiatan IFIC.CO (Indonesia Future Investment Conference) yang diinisiasikan oleh salah satu kader KAMMI. Acara tersebut berupa perlombaan sekaligus konferensi berkaitan dengan investasi usaha.

Ditulis oleh,

Urgensi Tarbiyah

Pengertian

Tarbiyah adalah seni membentuk manusia dan seni membentuk keadaan.

Tarbiyah Islamiyah adalah suatu yang mesti dilakukan tidak boleh tidak. Tujuannya, sebagaimana telah dijelaskan adalah merealisasikan Islam dalam wujud nyata sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah swt. Tarbiyah Islamiyah harus berasaskan kepada asas yang semestinya yaitu Al- Qur’an dan as-sunnah .

Tarbiyah memiliki tiga asal kata yaitu :

  1. rabba-yarbu (bertambah dan berkembang ) Q’s. Ar-Rum : 39
  2. rabiya-yarba ( tumbuh dan terbina)
  3. rabba-yarubbu ( mengishlah,mengurus,Dan memberi perhatian )

Makna asal dari kata “Rabb” adalah tarbiyah yaitu menghatarkan sesuatu secara bertahap sampai tingkat kesempurnaan.

Pengertian tarbiyah dalam bahasa lain :

  • ziyadah (penambahan)
  •  nasa’ah ( pertumbuhan)
  • taghdhiyah ( pemberi kehormatan)
  • ri’ayah ( memelihara)
  • muhafazah ( penjagaan)

Pentingnya Tarbiyah

Alasannya perlu tarbiyah dari aspek internal ajaran islam :

Ar-Rasul membimbing umat manusia untuk keluar dari kebodohan dengan ciri:

  • perpecahan (tanafur)
  • kemiskinan ( faqr)
  • kehinaan (dzillah)

Kondisi umat Islam sekarang tidak memahami Islam itu sendiri sehingga akhirnya terjebak dalam kondisi kejahiliyahan modern dengan kesesatan yang lebih dasyat dan nyata (Qs.3 : 164 ). Sehingga berdampak pada:

  • cinta dunia dan takut mati (wahn)
  • saling berpecah belah
  • mengotak-kotakan ajaran Islam
  • penyimpangan ajaran islam seperti (sekuler, pluralisme, dan liberalisme)
  • terbelenggu sinkritisme berbau TBC ( tahayul,bid’ah & khurofat)
  • meninggalkan jihad

Aspek individu :

– hakikat jiwa yang membutuhkan pembinaan (Qs.91 : 8-10). Hakikat jiwa tersebut menghadapi persoalan secara fitrah jiwa yang pada dirinya terdapat kecendrungan kepada taqwa dan kecendrungan kepada dosa .

Tujuan Tarbiyah

  • Memahami gambaran yang jelas mengenai islam yg sempurna.
  • Membentuk kepribadian muslim secara utuh (Kaffah).
  • Menumbuhkan harga diri dan pribadi yang tidak mudah dipecah belah.
  • Keimanan dan ketaqwaan penduduk merupakan asas terwujudnya kemakmuran yg penuh berkah.
  • Mewujudkan ketentraman dan kestabilan masyarakat.

(Rangkuman Madrasah KAMMI)

#GerakanKAMMIMenulis

31 Desember 2016

 

Bermimpi, Memimpin, dan Bertakwa

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada  yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, setelah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali-Imron:110)

Setiap manusia yang terlahir di dunia, telah  Allah maktubkan dalam  salah satu firmanNya, yakni menjadi sebaik-baiknya umat di muka bumi.

Maka, sudahkah  kita menjadi sebaik-baiknya umat tersebut?

Ada tiga tindakan besar yang harus kita lakukan demi mewujudkan amanah besar ini, yakni dengan; bermimpi, memimpin, dan bertakwa pada Allah.

Berani memimpikan apa yang kita inginkan. Seorang muslim yang baik adalah  muslim yang berani. Mempunyai visi yang jauh kedepan berikut dengan visual-visual dan ke-detail-annya. Seseorang pernah berkata kepadaku, bermimpi adalah setengah dari perjalanan menuju kesuksesan.”

Kemudian,  lakukan! Lakukanlah sebagaimana kita telah memimpikannya.  Berkarya, masuki jamaah-jamaah kebaikan progresif. Jangan takut untuk mulai bersinergi. Karena sesuatu yang kuat tidak ada apa-apanya tanpa berjamaah. Berkata seorang teman, mengemban amanah besar ini harus berjamaah.

Sudah seharusnya, kita sebagai seorang muslim terbiasa untuk berjamaah. Contoh nyatanya seperti shalat-shalat kita. Menaati perintah Imam yang memimpin kita, teratur, tertib dan sesuai aturan.

Tahu mengapa kezhaliman semakin merajalela di negeri sekarang ini? Karena mereka banyak “menolong” keburukan lain dibelakangnya. Maka, satu-satunya jalan ialah, mengorganisir kekuatan kebaikan untuk mengalahkannya. Bukankah kebaikan yang terorganisir dapat mengalahkan keburukan yang terorganisir pula?.

Sementara itu, apakah bermimpi dan kemudian menjadi pemimpin adalah suatu yang kilat? Hal itu mustahil, sahabatku.

Kita bukanlah Allah, yang dengan kuasanya berkata “Kun Fayakun” maka apa yang diinginkan-Nya terkabul. Bukan pula penyihir-penyihir negeri dongeng yang mengucap mantra “simsalabim” kemudian sesuatu itu tercipta. Bukan pula shortcut komputer yang memudahkan kita saat menginginkan sesuatu dengan dua kliknya.

Kita ini manusia, yang dalam perjalanannya dibutuhkan proses, dengan keringat, darah, bahkan air mata.  Dipastikan tidaklah mudah untuk kita mengemban amanah besar ini tanpa sebuah jamaah.

Sebenarnya, pemimpi dan pemimpin adalah dua kata berbeda yang letak perbedaannya terdapat dari satu huruf terakhir. Ya, huruf  N inilah pembedanya. Lalu, mengapa kedua kata ini adalah jurus jitu akan sebuah pergerakan besar? Cita-cita besar?

N disini ialah NEKAT! NYALI!

Butuh nyali untuk menjadi orang yang sukses. Lalu dengan apa cara mempunyai nyali ini?. Dalam Q.S Al-Hasyr ayat 18 Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Telah jelas tertulis, bahwa kita harus bervisi jauh kedepan dalam kehidupan kita. Dengan berani bermimpi dan berkarya. Namun dua hal ini di apit dengan perintah “bertakwalah!”. Karena sebaik-baiknya pertolongan hanya dari Allah, sekuat-kuatnya kekuatan  jugalah dari Allah.

Maka, al-Qur’an dan Sunnahlah jawabannya. Dengan mengembalikan semuanya kepada Allah. Dengan bertakwa kepada Allah, sebagai pedoman dan tali pergerakan kebaikan kita ini.

Jadi sahabat fillah, jangan takut bermimpi dan berkarya.

Maka pertanyannya, “Siapkah aku, kamu, bahkan kita dalam  mengemban amanah Allah menjadi sebik-baiknya umat?”. “Sudah sejauh mana kesiapan mu?”.

Faaiza Nabiela
Staff Humas
KAMMI Madani 2016-2017

Di sela hujan, Puncak, Cilember, akhir Desember 2016

#SelfReminder

#GerakanKAMMIMenulis

#AyoGabungKAMMI

Ar-Rasul Mu’allimin

 

“Di  antara  tugas  seorang  guru  adalah  membatasi (penyampaian materi) kepada  murid  sesuai kadar  pemahamannya. Maka, hendaknya  dia  tidak  menyampaikan materi dimana  akal  si murid belum  mampu menerimanya” (Abdul Fattah Abu Ghuddah).



Guru terbaik adalah Rasulullah saw. Beliau lah Ar-Rasul Mu’allim suri tauladan kita.  Lembut tutur dalam menyampaikan pesan-pesan nya.  Penyampaian yang lugas dan jawami’ alkalim (sedikit berbicara namun jelas dan mudah di pahami tanpa berbelit belit).

Rasulullah juga senantiasa memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh muridnya. Rasulullah menyampaikan sesuai dengan kapasitas kemampuan murid,  Sebagaimana kisah Muadz,
“Suatu ketika Rasulullah ditemani Muadz bin Jabal sedang berada di atas pelana hewan tunggangan (melakukan perjalanan).  Rasul tiba tiba memanggil Muadz, Wahai Muadz?. Hadir, Ya Rasulullah dengan senang hati,  jawab Muadz. Nabi memanggilnya lagi, Hai Muadz. Hadir Tuan,  jawab Muadz kembali.  Hai Muadz, ucap Nabi ketiga kalinya.  Hadir, Tuan, jawab Muadz kembali.

Kemudian Rasulullah bertutur, ” Tiada seorangpun hamba yang bersaksi dengan sungguh-sungguh dari dalam hatinya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,  kecuali Allah akan haramkan dirinya disentuh api neraka.” “Ya Rasul, bolehkah ku kabarkan hal ini kepada orang orang supaya bergembira?,  tanya Muadz. “Jangan, sebab mereka akan mengandalkannya,  jawab Rasul. Meski demikian,  Muadz memberitahukan kabar gembira ini kepada manusia menjelang ia meninggal. Hal itu dia lakukan demi menghindari dosa (lantaran menyimpan ilmu untuk dirinya sendiri).

Maksud ucapan Nabi, “mereka akan mengandalkannya, ” adalah beliau melarang Muadz memberitahu orang-orang perihal kabar gembira itu. Sebab mereka enggan melakukan amal baik karena mengandalkan pemahaman dangkal. Bahwa, hanya dengan mengucap dua kalimat syahadat cukup untuk menyelamatkan mereka dari neraka tanpa melaksanakan syariat dan hukum hukum agama.

Ayu Marlian Sundari
Staff BPP
KAMMI Madani 2016-2017

KAMMI dan Hidupku

Aku bukanlah orang orang yang pandai menyusun kata kata menjadi suatu kalimat sehingga menjadi suatu paragraf yang indah sehingga membuat kalian para pembaca bisa menikmati tulisanku tapi setidaknya aku memiliki pengalaman yg bisaku ceritakan untuk kalian semua.

Aku memang mahasiswa yang berkecimbung di dunia keagamaan islam khususnya dalam bidang tafsir dan hadits tapi sebelumnya aku merupakan pemuda yang hanya menghabiskan hidupku untuk bersenang-senang karena teman teman di lingkunganku yang sangat liar.

Di hati kecilku ingin sekali merasakan bagaimana indahnya terjun dalam dakwah dan tarbiyah. Tapi, disisi lain aku tidak bisa meninggalkan teman kecilku.

Karena keinginanku untuk merasakan indahnya dakwah dan tarbiyah sudah bulat, aku berusaha mencari organisasi di kampus yang bisa menyalurkan keinginanku. Aku menemukan BEM untuk melakukan dakwah. Alhamdulillah mengalami sedikit perubahan dalam hidup dengan bertemu dengan teman-teman yang baik.

Umur kampus yang terbilang masih belum menemui titik dewasa, BEM yang ada di dalamnya pun merupakan organisasi yang baru merintis menjadi suatu organisasi yang benar. Justru bukan aku berkembang dalam dakwah tapi aku harus membangun organisasi ini menjadi organisasi dakwah yang malah memberatkanku sebagai orang yang baru terjun dalam dunia organisasi.

Ketika aku terus mencoba membangun BEM, walaupun tanpa ada pengalaman organisasi yang matang. Akupun “duduk manis” menjalankannya. Bahkan, tidak sedikit orang yang bilang bahwa diriku bermuka dua.

Mulailah terbesit dipikiranku untuk mencari organisasi yang lain yang bisa mengembangkan diriku menjadi lebih baik lagi. Disaat yg bersamaan aku teringat akan organisasi dakwah yg pernah di geluti oleh kakak kandungku yaitu KAMMI.

Mungkin ini sebuah kebetulan atau memang takdir disaat aku mencari KAMMI ternyata rekan satu organisasiku telah terjun dalam organisasi KAMMI. Tanpa berpikir panjang saya pun bertanya bagaimana caranya untuk bergabung di KAMMI.

Setelah aku bergabung di KAMMI barulah terasa Indahnya organisasi dakwah ini. Aku bertemu teman-teman yang pintar ilmunya dan kuat agamanya.

Dari awal DM1 diberikan pemahaman aqidah dan pemahaman organisasi KAMMI. KAMMI merupakan wadah dakwah dengan kegiatan menambah wawasan berorganisasi. Berbagai macam kegiatan seperti; TDO, kajian ilmiah dari Kajian Ideologis dan Keislaman (KIK), Madrasah KAMMI (MK), Daurah Qur’an, dan tugas baca untuk para kader adalah aktivitas yang ada di KAMMI.

Adapula kegiatan sosial penggalangan dana untuk bencana, kegiatan aksi politik menyerukan aspirasi rakyat dengan turun kejalan. Semua di sajikan secara rapih di KAMMI. KAMMI benar-benar merubah hidupku dan aku merasakan adanya kekeluargaan walaupun dari latar belakang yang berbeda.

Dulu aku menghabiskan waktu hanya dengan bersenang-senang bersama teman. Sekarang berubah dengan tilawah dan membaca buku yang menbuatku berubah seutuhnya 180 derajat.

Kini aku pun sudah tidak khawatir lagi untuk membangun organisasi awal yangg aku geluti di kampus yaitu, BEM. Karena aku bisa menerapkan segala ilmu yang aku dapat dari KAMMI.

Dari Abu Musa radliallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya.” (HR. Bukhori -Fathul Bari’ No.5534)

#AyoGabungKAMMI

Rahmad dani
Staff Kaderisasi
KAMMI MADANI 2016-2017

Up ↑