Search

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

Dikala Kerinduan Menyentuh Jari-Jemari Kehidupan

Hari ini aku bertanya milik siapa atas kerinduan yang berat ini karena kuyakin bukan milik makhluk yang biasa. Mataku seperti lubang kunci yang kecil pengelihatanya meskipun cahaya itu besar, mengapa terasa begitu kecil, lalu kuperhatikan cahaya yang tak habis terang nyadari hari kebulan entah mengapa cahaya itu membuat mataku yang seolah mengecil bukan pengelihatanya, apa yang salah dengan mataku mengapa menganggap tebing adalah hal yang rendah dan begitu aku takut atas tempat kuberdiri walau saat itu aku tahu aku sedang berada pada dasar kehidupan dan takkan sedikitpun ada kemungkinan aku jatuh dari ketinggiannya.

Milik siapa kerinduan ini yang kuyakini tak pantas seorangpun yang bertuan atas kerinduanku, meskipun telinga ini terasa begitu bising atas jeritan makhluk-makhluk kecil yang kecilnya tak melebihi ketakutanku untuk berkata benar, dan begitu terasa tenang saat telinga ini memakan jeritan dari sebuah benalu yang tak di anggap dalam kehidupan, sampai kapan rumput ini tunduk tak berdesah saat kaki-kaki hina meluluh lantakan ketakuatan atas kerinduan yang masih dianggap tak bertuan itu.

Dan kini sudut hatiku bertanya apa ada yang pantas atas kerinduan yang tinggi akan derajatnya, yang teguh akan hakikatnya,dan takan kendur dimakan usia dan tak akan punah kehadiranya di waktu yang terus berputar,selain kepada tuhanku yang maha kekal dan Maha Sempurna dan menyempurnakan atas perintah-Nya, jika ada yang mengalahkan itu maka sadarlah jangan kau biarkan kerinduan itu menduakannya, menduakan atas derajatnya bahkan menduakan atas kehadiranya. Jika kita masih belum tersadar pejamkanlah mata ini sadari akan kehadiranya, sadari akan keagungannya dan sadari atas kerinduannya pula yang hadir untuk hamba-hambanya yang merindukanya, dan biarkan secara perlahan rasa syukur itu menyelimuti ketakutan dan kebahagiaan ini atas kerinduanya yang diungkapkan dari jari-jemari kehidupan yang diberikan tanpa mengenal harta dan martabat, selagi itu berlangsung balaslah pula sentuhan kerinduan itu dengan jiwa raga dalam jalan juang di jalan yang akan banyak menghabiskan tenaga dan waktu yang kita anggap sempit itu.

Dan jangan kita biarkan kerinduan yang memuncak itu baru hadir dan menyentuh dikala jari-jemari yang lantang telah tak bergerak.

Fajar Sidiq

Kepala Department Kajian Ideologi dan Keilmuan (KIK)

Berkunjung ke Rumah Penulis Buku Islam Liberal 101

Ini adalah kali pertama bagiku mengunjungi rumah seorang penulis yang namanya sudah sangat familiar di dunia kepenulisan. Beliau adalah Ustadz Akmal Sjafril. Kesan pertama berkunjung ke rumah penulis yang satu ini sangat luar biasa. Atmosfer itu sudah dapat saya rasakan tatkala memasuki pintu rumahnya.

Tujuan awal kami datang ke sana memang untuk menggali ilmu tentang paham sekuralisme dan pluralisme. Menurut kami, beliau adalah narasumber yang sangat tepat untuk topik tersebut. Buku beliau yang berjudul Islam Liberal 101 sukses membawa beliau menjadi seorang penulis yang sangat disegani lawan dan kawan. Beliau memang menulis buku tersebut untuk membantah semua pemikiran orang-orang Islam yang liberalis dan sekuralis. Beliau juga banyak menulis hal-hal yang bertujuan untuk meluruskan ajaran Islam yang sudah banyak termodifikasi” dengan sangat luar biasa.

Di awal perbincangan, kami banyak berbincang tentang kondisi umat Islam saat ini. Begitu banyak pemahaman aneh tentang Islam muncul dari kepala-kepala orang-orang liberal. Mereka mengemukakan pendapat tentang Islam hanya menuruti logika belaka. Lebih aneh lagi, pengikut aliran Islam yang tidak jelas itu terbilang cukup banyak. Apakah mereka tidak sadar apa yang mereka lakukan? Atau memang mereka sengaja untuk menyesatkan diri? Saya rasa alasan kedua samasekali tidak masuk akal. Adakah orang orang yang mau tersesat dalam beragama atau ketika berada di dalam hutan?

Di rumah beliau, kami banyak mendapatkan asupan luar biasa yang membangkitkan semangat membaca dan menulis. Beliau kembali menyadarkan kami akan pentingnya membaca dan menulis. Sebelum menjadi penulis seperti saat ini, beliau ternyata melewati banyak pengalaman pahit maupun manis. Awalnya, beliau juga kurang percaya diri. Beliau baru berani untuk menerbitkan buku setelah menulis sekitar 700 tulisan. Perjalanan panjang itulah yang akhirnya mampu membawa beliau untuk melahirkan buku spektakuler berjudul Islam Liberal 101. Hingga kini buku tersebut, seperti disampaikan Ustadz Akmal, sudah memasuki cetakan ke-10.

Beliau sendiri memaknai kesuksesan sebuah buktu itu diukur dari dampaknya kepada masyarakat. Alhamdulillah, berawal dari niat ingin meluruskan ajaran Islam dan mengoreksi pemikiran orang-orang liberal, beliau mendapatkan bonus dari Allah SWT berupa larisnya buah karya tersebut. Berbicara tentang karya-karya Ustadz Akmal, ternyata tidak melalu seputar perlawanan terhadap pemikiran-pemikiran liberal. Beliau juga menulis buku dengan tema lain, misalnya Wujudkan Ramadhan Terbaikmu.

Di akhir kunjungan, kami menyempatkan untuk berfoto bersama dan memberikan cendera mata kepada beliau. Tak disangka beliau juga balik memberi cendera mata juga berupa buku karya terbarunya, yakni Islam Liberal: Ideologi Delusional lengkap dengan tanda tangan beliau untuk KAMMI Madani. Sungguh momen yang sangat indah bisa mendapatkan kesempatan berkunjung ke rumah beliau. Padahal, hampir saja aku memutuskan untuk tidak ikut berkunjung ke rumah beliau. Betapa bersyukurnya aku, karena Allah tuntun langkahku menuju pilihan terbaik.. Semoga suatu saat dapat berkunjung ke rumah beliau dan tokoh-tokoh lain juga tentunya. Aamiin.

Yogi Saputra 

Mahasiswa semester 3 Teknik Industri Sampoerna University

Staff Humas Kammi Madani

Kader Tulang Punggung Dakwah

Dalam tulisan ini tak perlu dibaca dengan serius hanya perlu perenungan dan aksi yang konkrit.

Islam dari zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad sama-sama memiliki misi untuk membumikan kalimat tauhid diseluruh penjuru bumi. Sampai tempat terjauh dan terpencilpun harus merasakan bagaimana manisnya memeluk Islam. Sehingga hilanglah kejahilian-kejahilian di muka bumi ini.

Lembaran demi lembaran dari sejarah telah mengakui bahwa tidak ada agama yang lebih baik dan lebih sempurna kecuali Dinnul Islam.

Kesempurnaan Islam bukan hanya untuk para pemeluknya tapi juga bisa dirasakan oleh bukan pemeluk islam. Konsep-konsep atau isme-isme yang berkembang dan banyak sekali yang mengagung-agungkan tidak lain hanyalah fatamorgana, yang diluar keliatan subur tetapi di dalam memiliki kegersangan yang payah.

Cerminan tentang Islam ini bisa dilihat dari kitabullah dan sunnah Rasulullah. Semua yang ada di dunia telah di atur dalam Kitabnya yang ‘Aziz tidak ada kecacatan satupun didalamnya, dan terlihat nyata dari Akhlak Rasulullah yang mulia. Maka Allah pernah menantang kaum kafir dengan membuat satu ayat semisal yang serupa dengan ayat al-Qur’an

Dengan Akhlak Rasulullah yang mulia, maka banyak orang-orang pada zaman itu tertarik dengan Islam kecuali orang-orang yang didalam hatinya penuh keangkuhan. Lahirlah generasi-generasi emas dan terbaik tidak ada yang mampu menandingi kesholihan mereka sampai saat ini juga. Kader-kader yang memiliki kualitas dan kapasitas luar biasa. Sehingga mereka disebutkan oleh Rasulullah sebagai orang-orang yang di jamin Allah Surga. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat yang lain semoga Allah meridhoi mereka semua. Pendidikan yang Rasul ajarkan kepada mereka membuat pribadi-pribadi yang tangguh dan gagah tak takut dengan cobaan dan ujian yang datang dari sisi manapun.

Kalau kita membaca sejarah, betapa pentingnya kader dalam dakwah ini.

Che Guevera menyebutkan “Kader adalah sebagai Tulang punggung Revolusi”. Lebih luasnya Che Guevera menjelaskan seorang kader adalah mereka adalah orang-orang yang memiliki disiplin ideologis dan administratif, seorang individu yang telah terbukti kesetiaannya, yang keberanian lahiriah dan moralnya telah berkembang seiring dengan perkembangan ideologisnya. Dia juga seorang pencipta, seorang pemimpin yang berpendirian kukuh.

Maka dari pada itu kita harus bercermin kepada sejarah Islam masa lampau. Islam selalu melahirkan para kader-kader yang berkualitas baik dari aspek keimanannya maupun aspek militansinya. Dari Abu Bakar hingga Ust. Rahmat Abdullah. Islam tidak akan habis melahirkan kader-kader dakwah yang berkualitas. Islam tidak pernah memikirkan kuantitas. Bukan halnya Komunis yang selalu memikirkan jumlah. Untuk menguasai, negara komunis harus memikirkan berapa banyak orang yang harus tergabung bersama mereka. Lenin mungkin mencatat namanya dalam Sejarah yang mampu membuat negara Sosialis pertama di Rusia tapi itu tidak bertahan lama. Kenapa? Karena kuantitas tanpa kualitas sama saja Nol.

Cerita yang masyhur yang akrab di telinga kita. Tentang seorang pemuda Handzalah namanya, pemuda yang baru menikah dan lagi asyik masyuk menggauli istrinya dan saat sedang seperti itu tiba-tiba panggilan perang datang. Menariknya adalah pemuda ini tanpa berpikir panjang dan Ia tau bahwa ini adalah perintah Allah dan Rasulnya sehingga ia langsung mengambil baju perang dan keluar meninggal istrinya. Yang kita sama ketahui pemuda ini menjemput syahidnya dan saat itu Handzalah belum mandi wajib. Rasulullah mengabarkan kepada para sahabat bahwa Handzalah saat syahid ia di mandikan oleh para malaikat. Dan banyak lagi cerita-cerita masyhur yang sampai ke telinga kita bahkan di abadikan dalam sejarah. Pertanyaannya adalah apakah cerita tersebut bisa memberikan efek luar biasa terhadap kehidupan kita atau hanya sebagai dongen pengantar tidur?.

Siapapun kita, ketika telah mengucapkan kalimat tauhid berikrar setia bahwa hanyalah Allah tempat kita menyembah, Allahlah tempat bergantung harus menampakkan diri sebagai kader-kader dakwah yang sesuai dengan tuntunan syari’at. Al-Qur’an dan Sunnah yang Rasulullah tinggalkan kepada kita bukan hanya sekadar penghias lemari buku, tetapi kedua warisan itu adalah tuntunan kehidupan agar kita tidak salah dalam mengambil langkah. Sudah selayaknya itu terealiasasi dalam diri kader-kader dakwah. Apapun yang ada di dalam diri kita semua adalah cerminan dari dakwah. Baik dan buruknya kita dalam bermu’amalah akan berdampak kepada pandangan orang terhadap Islam. Harus dipahami bahwa kita tidak untuk diri sendiri, tapi ada orang lain yang menilai kita.

Kader-kader dakwah yang tangguh dan gagah adalah mereka yang memahami betul konsep tuhannya, agamanya dan memahami makna-makna yang terkandung dalam qur’an maupun sunnah. Semua berjalan beriringan dengan kehendak Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah. Kalau setiap kader-kader dakwah memahami betul tujuan dan tugasnya, maka akan tercipta kembali Islam yang menjadi Rahmat untuk seluruh alam. Akan terlahir kembali masa kejayaan Islam yang sempat terkubur. Maka kerja-kerja yang dilakukan adalah kerja yang konkrit dan nyata yang bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat sekitar. Akhlak yang baik yang harus diperlihatkan agar tidak terjadi lagi Islamphobia. Atau malah menambah bencinya mereka terhadap agama ini karena tingkah laku kita. Ini harus disadari. Banyak dakwah yang tidak diterima karena akhlak kita yang buruk yang tidak mencermikan nilai-nilai dakwah.

Penutup tulisan ini, mungkin saya sebagai penulis belum bisa mengamalkan seluruh yang ada dalam ajaran Islam. Tetapi saya selalu berusaha dan terus giat untuk mencerminkan Islam dalam diri saya. Kitapun harus menyadari betapa jalan yang kita lalui dan tugas kita emban tidak terlalu mudah. Banyak yang berguguran yang tidak tahan dengan jalan ini. Karena di jalan ini tidak ada barang-barang yang mewah. Ambil peran atau tergantikan. Kita adalah tulang punggung dalam dakwah ini. Semoga Islam bisa kembali jaya.

Wallahu’alam.

Jakarta, 11 Agustus 2016

PERKENALANKU DENGAN KAMMI

Nama KAMMI sangat asing di telingaku. Tiba – tiba saja salah satu temanku mendaftarkan aku di STYLE ini. Awalnya aku ogah – ogahan entah apa yang membuatku tergerak untuk datang pada hari H. Aku niatkan dalam hati apapun bentuk acaranya nanti insyaAllah akan ada manfaat yang dapat kuambil.

Semua berjalan biasa sampai materi pertama dimulai. Diskusi yang sangat menarik menurutku yaitu tentang makna syahadatain. Dilanjutkan materi – materi setelah itu, kami para peserta dibawa untuk berfikir apakah kalian sebagai pemuda muslim sudah memahami agama kalian? Sadarkah bahwa begitu banyak problematika diluar sana dan KAMMI merupakan salah satu wadah pemuda untuk mengambil peran.

MasyaAllah sampai akhir acara aku merasakan banyak manfaat. Materi, pemahaman, teman – teman dan kakak pembimbing luar biasa menurutku. Aku banyak berfikir peran apa yang akan aku berikan untuk umat?

Keikutsertaanku dalam acara ini bukan suatu kebetulan. Aku berharap kedepannya semoga segala yang kami dapat dari acara ini dapat kami amalkan. Kami dapat menjadi pemuda yang mau terus belajar. Menjadi pemuda besar kontribusinya bagi sekitar.

 

Aisyah Andra

Mahasiswi Jurusan Bioteknologi 2014

Universitas Al-Azhar Indonesia

KETIKA AKU DAN KAMU JADI KAMMI

بسم الله الر حمن الر حيم

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh

Adalah suatu kebanggaan bisa mengikutinya, walau terasa asing terdengar, walau belum sempat bertemu. Saat itu aku mendapatkan sebuah pesan yang persuasif, tentu saja berisi ajakan. Saat aku baca disana timbul rasa tanya, karena rasa penasaran ini semakin menggeliat hingga akhirnya ku beranikan diri untuk bercakap melalui sosial media dengan salah seorang narahubung yang aku kenal. Dia menransfer semangatnya kepada ku, entah bagaimana dia bisa membuatku membulatkan tekad dan akhirnya aku menjebol gawang ketakutanku.

Pertama aku dan kamu bertemu itu sebelum acara puncak itu terlaksana, aku asing terhadap kamu, dan ku pikir kamu pun begitu, tapi ternyata tidak. Hangatnya pancaran sinar matahari pagi merambat kepada sapa mu, seolah aku dan kamu kawan lama yang baru bertemu kembali melepas rindu. Memang sudah sepantasnya seperti itu sebagai saudara, tapi rasanya di era yang mengedepankan kesendirian ini, hal macam itu sedikit kujumpai.

Di taman yang terletak di tengah kota itu aku dan kamu duduk bersama, belajar bersama, berharap ilmu dan semangat juang si pembicara dapat tersalurkan dan berharap dengan majelis ilmu itu bisa menjadi dzikir kepada-Nya. Begitu banyak cerita yang aku dan mungkin juga kamu, cerna dari si pembicara, beliau menceritakan betapa bahagianya beliau dengan kesibukannya beliau dalam berdakwah memperjuangkan agama-Nya, menggempur benteng benteng barat yang menyuapi para generasi muda dengan budayanya yang meresahkan, hanya saja tak bisa menyalahkan satu pihak saja, jangan disalahkan tapi harus ambil peran untuk mengambil 2 tindakan, yaitu pencegahan dan pengobatan bagi yg sudah terjangkit.

Beberapa waktu berselang hari yang ditunggu pun datang, datang memberi salam, salam semangat juang. Di hari yang menjelang malam itu aku dan kamu kembali berkumpul, tapi di waktu yang berbeda dan di tempat yang berbeda, masih di tengah hiruk pikuk kota Jakarta. Kamu kembali menyunggingkan senyummu itu, senyum yang menggetarkan nuraniku, senyum yang membakar semangat agar bisa terus bersama memperjuangkan dakwah bagi para pemuda bangsa. Kemudian aku pergi ke lokasi dimana semua cerita ini terangkai menjadi satu kesatuan padu.

Diawali dengan sembahyang bersama, kemudian aku mempersiapkan diri lagi untuk naik ke acara selanjutnya, berharap agar tubuh ini tak berontak dengan serangkaian acara yang akan disuguhkan hingga akhir acara. Timbul tanya “apa acara selanjutnya?” Tak lama setelah itu sesorang datang, berjas dan memakai kopiah duduk dengan tenang, kemudian menjelaskan sebuah pondasi awal. Betapa pentingnya sebuah pondasi dalam mendirikan sebuah bangunan. Kemudian di hari berikutnya dengan pembicara yang berbeda, aku belajar tentang Islam, bahwa begitu sempurnanya agama ini. Lalu aku diajak melihat ke sekeliling oleh pembicara lainnya, apa masalah yang sedang terjadi hari ini di dunia, jika dunia terlalu luas maka persempit menjadi negara, jika negara masih luas persempit menjadi lingkungan, jika masih luas juga persempit menjadi keluarga, dan bermuara pada masalah pada setiap individu. Setelah itu seseorang baru datang lagi membawa ilmu berbeda yang akan dibagikan.

Apa kegiatan ini hanya materi? Tentu tidak, ada selingan-selingan juga tentunya. Kami berdiskusi, beradu argumen, bertadabur dan masih banyak lagi. Bagiku disana setiap kegiatan yang disuguhkan adalah suatu proses pembelajaran yang berarti, dari mulai hal kecil yaitu makan bersama, dari makanan yang diberikan aku belajar untuk menghargai makanan dan konsep berbagi, karena kami makan satu wadah bersama, agar satu sama lain saling merasakan macam-macam rasanya, dan masih banyak yang lainnya.

Dari serangkaian materi yang ditransfer, jika diamati ternyata ada titik-titik yang terhubung, jika ditarik kesimpulan maka didapatkan untuk menjadi seorang pejuang yang tangguh harus memiliki beberapa poin, diantaranya poin pertama pondasi yang kuat agar tidak mudah tumbang di tengah jalan; poin kedua memiliki agama islam yang sempurna dan bahwasanya islam adalah agama yang sempurna, tinggal bagaimana individu menyempurnakan islam yang ada padanya secara kaffah; dari kedua poin tersebut akan menghasilkan solusi yang apik untuk membenahi problematika yang terpampang didepan mata yang melanda bangsa khususnya generasi penerus, oleh sebab itu peran dari pemuda sangatlah penting dan salah satu wadah yang ada dari sekian banyak wadah yang ada adalah KAMMI Madani. Dengan bersama, kammi bisa menjadi pasukan perang yang siap bertarung melawan penjajahan globalisasi di muka bumi terumana di bumi pertiwi. Betapa indahnya aku dan kamu bisa menjadi Kammi. Terima kasih untuk semua inspirasi yang telah ditumpahkan ke dalam rangkaian acara yang telah berlangsung. Allahu Akbar!!!

 

Bela Fisca N

Mahasiswi Universitas Al-Azhar Indonesia

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑