Search

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

Catatan Ramadhan Hari Keenam: Ciri Orang Beriman yang Beruntung (Part 2)

“dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,” (Q.S. Al-Mu’minun: 3)

Mejauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna merupakan ciri kedua dari orang beriman yang beruntung yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Menurut tafsir Ibnu Katsir, makna dari ayat ketiga ini ialah orang yang beriman senantiasa menjaga dirinya dari perkara-perkara yang batil, musyrik, maksiat, dan semua perkataan serta perbuatan yang tidak berguna seperti dikatakan oleh sebagian ulama.

Bulan suci Ramadhan ini adalah bulan yang tepat sekali untuk mengasah kemampuan yang satu ini. Kita semua dilatih untuk menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang tidak berguna, dusta, dan perkataan-perkataan lain yang bernilai dosa serta tidak bermanfaat. Begitupun dengan aktivitas-aktivitas kita, selalu dilatih oleh Allah untuk disibukkan dengan amalan-amalan kebaikan dan berpahala. Allah memberikan pahala dan kebaikan yang berlipat ganda khusus di bulan ini untuk memotivasi kita dalam beramal. Bahkan Allah pun mengurung ‘dedengkot-dedengkot’ yang suka menggoda kita agar pelatihan ini bisa berjalan dengan lancar dan memberikan hasil yang maksimal.

Namun pada kenyataannya, banyak dari kita yang menganggap bahwa melatih kemampuan ini tidak terlalu penting. Padahal jika diperhatikan dengan baik, akan memberikan efek yang luar biasa di dalam kehidupan kita. Kita semua telah lumrah bahwa banyak pertengkaran-pertengkaran, kesalahpahaman, dan konflik-konflik di antara manusia yang disebabkan oleh perkataan yang tidak berguna. Kita juga telah lumrah bahwa yang membuat kualitas hidup kita tidak menjadi lebih baik ialah perbuatan-perbuatan yang tidak berguna seperti bermalas-malasan, dan sebagainya.

Di bulan suci Ramadhan ini, kita seharusnya sadar dan mulai bergerak untuk menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna karena kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut sangat besar dengan tantangan yang sangat minim. Caranya? Sibukkan diri dengan memperbanyak ibadah kepada Allah, tadarus Al-Qur’an, murojaah hafalan, datang ke majelis ilmu, dan sebagainya. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengasah kemampuan tersebut dan menanamkannya ke dalam diri kita. Aammiinn. Happy Ramadhan Mubarak.

Jakarta, 1 Juni 2017

Sang Pengembara,

AH

Catatan Ramadhan Hari Kelima: Ciri Orang Beriman yang Beruntung (Part 1)

Seperti yang telah disebutkan pada catatan kemarin, bahwa ada 6 sifat dari orang-orang beriman yang beruntung. Sifat pertama ialah khusyuk di dalam sahalatnya. Ayat kedua dari surah Al-Mu’minun menyebutkan ciri-ciri ini.

“(yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya.”

Ali ibn Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna “Khasyi’un” orang-orang yang takut kepada Allah lagi tenang. Hal ini senada seperti yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa khusyuk artinya ketenangan hati. Ketenangan hati yang dimaksudkan di dalam ayat ini ialah ketenangan hati ketika sedang melaksanakan shalat. Khusyuk di dalam shalat itu tiada lain hanya dapat dilakukan dengan memusatkan hati di dalam shalatnya, menyibukkan dirinya dengan shalat, dan melupakan hal lainnya serta lebih baik mementingkan shalatnya daripada hal lainnya.

Di bulan suci Ramadhan ini, Allah memberikan kita taufik yang banyak sekali sehingga tidak heran jika kita selalu merasakan semangat untuk beribadah kepada Allah, terutama melaksanakan shalat. Sering kita melihat fenomena di sekeliling kita, ada orang yang mungkin di bulan-bulan lain tidak pernah melaksanakan shalat wajib di masjid, atas taufik dari Allah ia melaksanakan shalat wajib di masjid walaupun itu hanya shalat Isya saja semisal.

Banyak di antara Muslim yang selama bulan suci Ramadhan, bertambah dan terus bertambah kuantitas ibadahnya terutama shalat. Selain bulan suci Ramadhan, akan sangat jarang kita melihat orang-orang yang melaksanakan shalat Sunah malam secara berjamaah bahkan masjid pun tidak mampu menampung jumlah jamaah saking banyaknya. Hal tersebut jika kita lihat dari segi kuantitas. Namun, dari segi kualitas kita akan sulit untuk menilainya karena hanya yang bersangkutan dan Allah lah yang dapat menilainya. Untuk itu, tulisan ini mencoba untuk mengajak para pembaca untuk tidak hanya berfokus pada peningkatan kuantitas shalat tetapi juga berfokus pada peningkatan kualitasnya. Hal ini bertujuan agar Ramadhan tahun ini bisa menjadi training center kita dalam melinierkan perkembangan kualitas dan kuantitas ibadah shalat kita sehingga nanti kita bisa menjadi salah satu orang-orang beriman yang beruntung.

Adapun kiat-kiat agar dapat khusyuk di dalam shalat, berdasarkan sumber-sumber Al-Qur’an dan hadist diantaranya ialah pertama menyadari bahwa shalat adalah perjumpaan sekaligus komunikasi dirinya dengan Allah. Hal itu telah diisyaratkan dalam hadits Nabi: “Apabila seorang di antaramu sedang shalat, sesungguhnya dirinya sedang berkomunikasi dengan Allah….” (HR. Bukhari: 531, Muslim: Syarah Nawawi: 5/40-41, An-Nasa’i: 1/163. 11/52-53 dan lain-lain). Jika seseorang yang shalat menyadari jika ia sedang berkomunikasi dengan Allah maka selayaknya ia berikap khusyuk dan menyadari bahwa segala bentuk gerak hati maupun jasmaninya diperhatikan oleh Allah. Kedua ialah tuma’ninah. Tuma’ninah artinya memberikan jeda dari setiap perpindahan gerakan shalat. Tujuan dari tuma’ninah tidak lain ialah untuk membuat hati tenang dan memaknai bacaan shalat sehingga memudahkan kita untuk mencapai kekhusyuan di dalam shalat. Jika kita perhatikan fenomena-fenomena shalat Sunah malam selama bulan suci Ramadhan, sering kita melihat ataupun merasakan gerakan shalat terlalu cepat atau jeda yang terlalu singkat di antara setiap gerakan shalat sehingga membuat hati kita terasa ingin mengejar-ngejar ketertinggalan gerakan yang akhirnya membuat shalat kita tidak khusyuk. Menurut penulis sendiri, tuma’ninah inilah yang bisa menjadi aspek yang patut diperhatikan di dalam shalat karena ia merupakan salah satu teknik dasar untuk mencapai kekhusyukan di dalam shalat.

Demikianlah beberapa kiat-kiat khusyuk di dalam shalat. Semoga Allah memudahkan kita dalam mencapai kekhusyuaan di dalam shalat sehingga kita nantinya bisa menjadi mukmin yang beruntung. Aammiin. Wallahu a’lam bisshawab. Happy Ramadhan Mubarak.

Jakarta, 31 Mei 2017

Sang Pengembara,

AH

Catatan Ramadhan Hari Keempat: Mengenal Orang-Orang Beriman yang Beruntung

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Umar r.a pernah berkata bahwa ketika itu ada seorang laki-laki yang datang menghampiri Nabi SAW dan menanyakan tentang iman, Islam, dan ihsan, serta hari kiamat. Kemudian Rasulullah menjelaskan kepada laki-laki tersebut pengertian iman, “Engkau beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk,”  kemudian orang tersebut membenarkannya dan para sahabatpun terheran-heran. Setelah semua pertanyaan telah dijawab oleh Rasulullah SAW, laki-laki itupun berlalu kemudian Rasulullah SAW mengabarkan kepada para sahabat bahwa sesungguhnya laki-laki yang barusan datang ialah Malaikat Jibril.

Lalu, apa kaitannya antara iman dengan bulan suci Ramadhan? Kita umumnya telah mengetahui bahwa puasa di bulan suci Ramadhan hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang beriman saja (Q.S. Al-Baqarah: 183). Artinya, bagi manusia yang tidak beriman, mereka tidak wajib untuk berpuasa di bulan suci Ramadhan. Berbicara tentang iman, Allah SWT telah menyebutkan beberapa sifat dari orang-orang yang beriman dan menurut penulis sendiri, bulan suci Ramadhan ini merupakan waktu yang tepat untuk melatih sifat-sifat tersebut. Sifa-sifat tersebut disebutkan oleh Allah SWT di dalam Q.S Al-Mu’minun: 1-9 yaitu khusyuk dalam shalat, menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, menunaikan zakat, memelihara kemaluan (tidak berzina), memelihara amanah dan janji, serta memelihara shalat.

Ciri-ciri yang telah disebutkan diatas adalah sebagian dari ciri-ciri seorang yang beriman yang disebutkan Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Insyallah akan kita coba kupas satu persatu di catatan-catatan selanjutnya. Happy Ramadhan Mubarak.

Jakarta, 30 May 2017

Sang Pengembara,

AH

Menjawab Persepsi Islamphobia

Di negara yang kita cintai ini kita mengetahui betapa cepatnya tersebar penyakit Islamphobia yang menimbulkan ketakutan kepada Islam yang menganggap islam sebagai Radikalisme, Intoleran, Extremisme dan lain sebagainya. Ini adalah suatu kesalahpahaman terbesar yang disebarkan oleh orang-orang anti islam seolah-olah agama ini disebarkan melalui kekerasan dan paksaan. Maka saya akan mencoba meluruskan agar tidak ada lagi ketakutan bagi kalian.

Islam yang dibawa oleh Nabi terakhir itu menjadi penutup semua ajaran langit (samawi) untuk manusia. Maka dari itu kesempurnaan nikmatnya untuk semua makhluk bersifat universal, bersifat komprehensif dan abadi hingga hari kiamat. Seperti yang telah dituliskan dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 107

” Dan Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi seluruh alam” (Q.S Al-Anbiya’ 21:107)

Karena Islam sebagai penutup risalah Ilahiyah dan agama seluruh manusia, Islam memiliki karakter yang cocok dengan setiap manusia di segala zaman dan generasi. Maka Islam mencakup penghormatan, kasih sayang,dan toleransi.

Penghormatan menurut Islam adalah hak setiap manusia, bagaimanapun statusnya dalam masyarakat, tanpa memandang kebangsaan, warna kulit, keturunan ataupun agamanya. Rasulullah SAW telah memberikan contoh berdiri dengan khusyuk ketika peti jenazah seorang Yahudi lewat di hadapan beliau. Rasulullah SAW lalu ditanya, “Ya Rasulullah, itu jenazah Yahudi !” Beliau menjawab, “Bukankah ia juga manusia?” “Betul, Ya Rasulullah, ia juga manusia yang berhak dihormati!” Jawab mereka ( H.R. Muslim)

Kasih sayang yang dimaksud dalam Islam bukanlah untuk individu, melainkan kasih sayang untuk umum. Kasih sayang adalah salah salah satu kebutuhan manusia karena setiap manusia memerlukan kasih sayang dari orang lain maka Islam menganjurkan manusia untuk saling menyayangi. Nabi SAW bersabda, “Orang-orang yang penyayang akan disayang Ar-Rahman. Karenanya, sayangilah penduduk bumi niscaya kamu akan disayangi oleh semua penduduk langit.” (H.R. Tirmidzi hadits ini hasan sahih)

Toleransi dalam Islam adalah tasamuh yang berarti kemampuan menahan diri adapun makna secara bahasa tasamuh adalah mereka membiarkan keyakinan orang lain walaupun bertentangan dengan kita dan sesat dalam pandangan kita. Kita tidak menyerang, memaksa, menghalangi dan mengubah keyakinan mereka. Allah berfirman:

“Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (Q.S. Al-An’am 6:108)

Dari penjabaran tersebut apakah masih terlintas dalam pikiran kalian bahwa Islam itu Radikal, intoleran dan extrem? Semoga Allah memberikan hidayah untuk kalian semua yang masih menganggap Islam itu Radikal, intoleran dan extrem dan dibukakan mata hatinya oleh Allah dalam memandang Islam secara kasat mata.

Rahmad Dani

Bekasi, 29 mei 2017

Catatan Ramadhan Hari Ketiga: Berbuka Adalah Wujud Kemenangan

Hal yang paling ditunggu-tunggu ketika kita sedang mengikuti sebuah kompetisi ialah pengumuman pemenang. Akan sangat menyenangkan hati jika dalam pengumuman tersebut, nama kita termasuk kedalam daftar pemenang. Seperti halnya bulan suci Ramadhan, ia adalah bulan kompetisi. Kompetisi untuk memperbanyak amal ibadah dan menjinakkan hawa nafsu. Berbuka merupakan saat pengumuman bahwa kita telah memenangkan kompetisi hari ini. Kita telah berhasil menjinakkan hawa nafsu dan berhasil juga melaksanakan perintah Allah yaitu puasa.

Berbuka merupakan nikmat kemenangan yang diberikan oleh Allah. Berbuka merupakan bukti bahwa kita telah berhasil melewati halangan dan rintangan selama berpuasa  dari terbit fajar hingga adzan maghrib berkumandang. Berbuka merupakan salah satu cara kita merayakan kemenangan kita atas kompetisi hari ini (berpuasa). Namun, kita jangan sampai merayakannya dengan berlebihan karena Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Jika kita berlebihan dalam berbuka, bisa jadi berbuka kita bukanlah menjadi kemenangan tetapi kekalahan. Mengapa? Karena pelajaran-pelajaran yang telah kita dapatkan ketika berkompetisi tidak terealisasi saat berbuka. Bukankah tujuan utama dari suatu kompetisi adalah kemenangan? Sedangkan berbuka adalah kemenangan bukan kekalahan.

Salah satu bukti jika berbuka kita merupakan kemenangan ialah dengan bertambahnya semangat untuk beribadah kepada Allah SWT. Sesudah berbuka seharusnya kita lebih bersemangat untuk melaksanakan shalat di masjid, mendatangi majelis ilmu, tilawah Al-Qur’an, shalat tarawih, dan sebagainya. Berbuka merupakan suatu amal kebaikan. Amal kebaikan fitrahnya akan melahirkan amal-amal kebaikan lainnya.

Kesimpulan hari ini adalah berbuka merupakan suatu kemenangan jika dengan berbuka kita menjadi semakin bersemangat untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT. Sekian catatan hari ini. Happy Ramadhan Mubarak.

Jakarta, 29 Mei 2017

Sang Pengembara,

AH

Up ↑