gambar

Membangun Amal Tandzim – Kolom Ketua Umum


”Kejahatan yang terorganisir dapat dengan mudah mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”.(Ali Bin Abi Thalib)

Kewajiban Tandzim

Sekecil apapun sebuah gerakan perbaikan, ia harus terstruktur. Tanpa struktur, akan ada banyak potensi yang terbuang sia-sia. Mubazir. Jadi sebuah gerakan perbaikan yang memiliki visi yang kokoh, memiliki sasaran, dan pasti berhadapan dengan sekian tantangan tentu membutuhkan struktur yang rapi.

Berstruktur, bagi sebuah gerakan dakwah adalah dasar manhaj Islam. Metodologi dakwah islam dibangun atas keteraturan dan kerapian. Shalat ditegakkan di atas kaidah yang teratur dan rapi. Demikian pula puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya. Prinsip muamalah dalam kehidupan sosial, pernikahan, sampai bernegara ditegakkan dalam keteraturan dan  kerapian.

Kepemimpinan

Bagi setiap gerakan dakwah, berorganisasi adalah mengikuti petunjuk Al-Qur’an. Dalam mengarahkan soal kepemimpinan, Allah swt. berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan taatilah Rasulnya dan Ulil amri di antara kamu, Kemudian jika kami berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)

Ketaatan dan kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang aksiomatik dalam sebuah organisasi, termasuk organisasi dakwah.  Dalam kaitan hubungan antara panglima dan tentaranya, Allah swt. Berfirman:

Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS.An-Nur:62)

Dalam soal mendengar dan taat pada pemimpin, Rasulullah bersabda:

Dengarlah dan ta’atlah, meskipun yang memimpin kamu adalah seorang budak berkebangsaan Habasyah yang rambut kepala seperti buah kurma kering. (HR. Bukhari)

Kamu harus mendengar dan menta’ati, baik pada waktu susah maupun senang, baik di waktu giat maupun malas, serta mengutamakannya daripada urusan pribadimu. (HR. Muslim)

Ikatan Tandzim

Ketika menjelaskan ikatan antara orang-orang yang berada dalam barisan gerakan dakwah, Allah swt. Berfirman:

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang kokoh. (QS. Ash-Shaf: 4)

Bangunan yang kokoh (al-bunyanun marshush) hanyalah hasil dari tandzim dengan keteraturan dan kerapiannya.

Era Isu Negatif

Sebenarnya memang lebih nyaman jika dakwah ini terus dibatasi ruang geraknya hanya pada mereka yang berpendidikan, cerdas, bersemangat dalam agama, dan lingkungan yang menjunjung objektivitas. Tapi tidak. Dakwah ini sudah digerakkan sehingga merambah wilayah lain dan meninggalkan zona nyamannya. Hari ini, gerakan dakwah ada dilingkungan yang mungkin lebih tidak nyaman dibanding lingkungan terdahulu.

Pergerakan dakwah tentu tidak ditanggapi dengan seragam. Ada yang menyambut gembira dan menitipkan harapan kepadanya. Ada yang mengkhawatirkan hilangnya idealisme anak-anak dakwah. Ada juga yang membencinya sehingga berusaha memadamkan api dakwah atau setidaknya menghambat langkah dakwah. Juga banyak sikap yang merupakan perpaduan dari sikap yang ada. Pergerakan dakwah memang disikapi dengan tidak seragam.

Memang membangun tandzim bukanlah pekerjaan sederhana. Ada banyak hal yang dapat menggagalkannya. Faktanya, beberapa orang yang dahulu bersama kita di jalan dakwah, sekarang tidak lagi bersama kita. Ada banyak alasan untuk itu. Ada yang berpisah karena soal harta, soal politik, soal popularitas, ada soal kepemimpinan, dan ada banyak hal lainnya. Salah satu yang paling menonjol adalah perpisahan dakwah karena perbedaan pendapat dan perbedaan menyikapi kebijakan dakwah.

Memang, tak berarti akan selalu ditemukan satu hal yang menjadi penyebab dari kasus berpisahnya ikhwah dari barisan dakwah, karena dalam satu kasus perpisahan itu sering kali ditemukan beberapa penyebab yang saling bertalian.

Mungkin kita pernah menyaksikan satu-dua orang yang minggir dari dakwah ini. Memang pemandangan itu bisa dimuarakan dalam suatu kesimpulan bahwa dakwah memang bukan soal yang sederhana. Bahkan sebaliknya, dakwah ini adalah hal yang memilah antara kita yang memiliki kejujuran dengan mereka yang mungkin masih mencari arti kejujuran. Memang untuk bersama dakwah ini, diperlukan kesabaran.

Dinamisasi dakwah adalah hal yang tidak terhindarkan. Justru dari sini kita mendapatkan pembelajaran yang berharga. Bukankah sebagian dari syariat Allah diturunkan karena dinamisasi (baca: kekeliruan/kesalahan) yang dilakukan oleh Rasulullah beserta para sahabat ? Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa sebagian dari penetapan hukum syar’i atau ibrah dilatarbelakangi oleh dinamisasi yang terjadi pada generasi muslim awal ketika itu.

Jika dinamisasi adalah hal yang tidak terhindarkan. Jika kita adalah kumpulan manusia yang kerap melakukan kesalahan. Jika kita tak sebaik generasi dahulu. Dan jika kita memang tak bersama-sama secara langsung dengan Rasulullah yang maksum. Masihkah kita bermimpi tak kan ada timbul masalah dalam barisan kita ? Tentu tidak. Jadi, hal yang harus dilakukan adalah memperbaiki kualitas penanganan kasus atau memperbaiki kualitas ‘ilaj dalam struktur dakwah.

Terdapat tiga jenis i’laj (tindakan yang kita ambil dalam rangka memperbaiki dan menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi). Pertama adalah ‘ilaj ukhawi. Yaitu menyelesaikan permasalahan melalui pendekatan ukhuwah. Kedua adalah ‘ilaj tarbawi. Yaitu mengatasi permasalahan yang dialami kader melalui taujihat tarbawiyah dalam forum-forum pembinaan. Ketiga adalah ‘ilaj tanzhimi. Ada ijro’at tanzhimi (mekanisme dan aturan organisasi) yang mengikat kita. Ketika suatu kesalahan yang dilakukan kader tidak mampu diatasi dengan ‘ilaj ukhawi dan ‘ilaj tarbawi, maka dengan otoritasnya, da’wah bisa melakukan ‘ilaj tanzhimi. Jajaran qiyadah di berbagai jenjang struktur harus mampu menggunakan otoritasnya. Pada titik ini, seorang kader akan dihadapkan pada pilihan-pilihan komitmen da’wah-harakahnya. Karena keta’atan pada jama’ah dan qiyadah adalah salah satu kewajiban asasi dalam amal jama’i.

Daftar Pustaka:

-. http://www.kammi-medan.co.cc/2012/11/membangun-amal-tandzimi.html

-. http://www.pemuda–rabbani.blogspot.com acsess on 6th November 2012. 13.25 pm

-. Abdillah, Ari. 2010. Paradigma Baru Dakwah Kampus. Jakarta: Cinta Media.

-. Novianto, Eko. 2011. Dakwah dan Manajemen Isu. Jakarta: Era Adicitra Intermedia

*oleh : Dian Syahputra Pasaribu
Ketua umum KAMMI MADANI 2012/2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s